Skip to main content

Tabayun Atau Menghakimj

Berkedok tabayun namun dasarnya menghakimi.
Bukan pertanyaan kalian kenapa,
Namun dengan tiga pertanyaan yang tidak bisa kita jawab.
Udah berapa lama
Tujuan nya apa
..... Lupa.

Dilanjutkan, dengan statement
1. Mengaku
2. Dilaporkan

Klo dilaporkan pasti harus mengaku juga. Dan semua orang tahu, gak akan bisa menutup mulut semua orang.

Kalau mengaku, mereka janjinya hanya di tangan mereka semuanya..

Tapi rasanya tak mungkin. 

Kecewa sih.. 
Disini gw yang sekali lagi, berkorban, mengorbankan yang baik baik saja, menjadi tidak baik baik saja.
Dan bahkan besar kemungkinan akan selesai.

Dengan alasan, sudah sering tp gak jera..
Sering?
Kapan?

Gak pernah sekalipun, dan ini pertama kalinya...

Tapi ya sudahlah, memang salah.. mo berkata apapun tetap salah, biarlah 
Walau niat mo bantu temen, sedikit memberi ketenangan malah, dianggap manfaatin.. 
Makan temen atau apalah, intinya gw dianggap curi kesempatan,
Entahlah.. 

Padahal gw ngerasa, dan diapun sama..
Peduli sama temen itu salah ya?
Apa karena gw kebablasan?

Sekarang, nasib gw yg di ujung tanduk, anggap aja istana gw mungkin bentar lagi roboh, karena dipaksa logika statement tadi. Tak ada jalan keluar.

Warning ini sebenarnya udah lama.... ada

Namun ada rasa tidak tega dan sayank, yg g bisa d lepaskan.
Sehingga terjadilah hingga hari.

Hari dimana, semua bermula, untuk tidak percaya siapapun.
Tak ada yg membela, tak ada yg berucap, hanya aq yg terpojokan..
Salah..
Salah..
Salah..

Gw di cap salah, kotor, makan temen. Cari kesempatan.


Comments

Popular posts from this blog

Dinamika Istri Kerja

Yang kurasakan selarang adalah, ada yg mengganjal di hatiku, Padahal aku seneng-seneng saja plang sendiri, bisa pake headset denger musik. Berdiri. Atau duduk namun kok malam ini seperti ada gak rela gitu.  Jadi habis share pesat ustadzah soal bagaimana anak sulung kami memecahkan masalah rasa bersalahnya karena menjatuhkan laptop, intinya kamu terharu dengan apa dan tindakan yang dilakukan anak kami.  Dan dia pengen bareng pulang naek kereta, ya tiap hari memang perjalanan kami dengan kereta.. bolak balik jakarta lintas kota lintas provinsi.  Aku dan istriku bekerja. Ya dia bilang d chat WA ingin plang bareng, mungkin karena suasana haru. Tapi dia ada meeting, infonya paling sebentar lagi selesai, jam sudah menunjukan pkl. 8 malam lewat. Dan mengabarkan paling sebentar lagi selesai, dan dia akan langsung ke tebet dari kuningan jakarta. Namun begitu jam 9, akupun baru sampai di  parkiran stasiun, dia chat meminta maaf, lanjut meeting, pindah tempat. Itu sudah jam 9,...

AKU YANG SELALU SALAH

Aku ini adalah seorang istri dan ibu yang memiliki 3 orang anak yang lucu-lucu, kata orang seorang istri itu harus NURUT  apa kata suaminya. Aku berusaha sebisa mungkin untuk menjadi Istri seperti yang dia mau, memasak makanan untuknya, menyiapkan makanan, mengurus 3 orang anak, dan yang wajib lagi menjaga badan agar tetap kurus. Kalau sudah agak gendut pasti dia selalu komentar yang nyakitin aku. Serba salah. Gak tau harus bagaimana. Semua usaha runtuh setelah kejadian 3 tahun silam. Walaupun itu kejadian 3 tahun yang lalu, tapi rasa sakitnya gak hilang. Yang hilang cuma rasa CINTA . tapi kalau dipikir pikir pernikahan itu bukan soal rasa. Menurutku hal yang bodoh jika perceraian terjadi karena tidak ada lagi CINTA. Tetapi kenapa DIA dengan mudahnya bilang "KITA CERAI SAJA", "DAN MINTA PEMBAGIAN HARTA"  Aku kira aku baik-baik saja setelah melupakan semuanya,  Aku kira aku baik-baik saja setelah aku menahan emosi dan kekesalan semuanya, Namun saat ini aku merasakan ...

Katanya "TEMAN" Tapi KOK GITU

Katanya mereka "TEMAN" Tapi kenapa mereka men-JUDGE aku ? Tapi kenapa mereka ikut campur urusan rumah tanggaku ? Tapi kenapa mereka men-JAUHI ku ? Bukannya TEMAN BAIK itu yang menerima susah senang kita ya? Tapi kenapa hadirnya selalu disaat senang saja Disaat aku menghadapi kesulitan mereka kemana ? Bisanya cuma menilai dari luarnya saja.  Merasa aku ini seperti PENDOSA dan mereka seperti MALAIKAT.   Heyyyy INGATT !!! RUMAH KITA BERBEDA, MASALAH YANG KITA HADAPI BERBEDA JUGA. Mungkin aku tidak sekuat KALIAN, atau bahkan mungkin KALIAN tidak sekuat AKU.